Text
Raja dan Batu Langit
Yang mula-mula terasa saat membaca cerpen-cerpen Kompas ini adalah napas yang sama, yakni manusia mengukur luka. Luka pada tanah, pada tubuh, pada rumah, pada waktu. Lalu, berharap ada yang pulih. Barangkali sebab itu tokoh-tokoh dalam cerpen-cerpen ini kerap menoleh ke yang lebih besar daripada dirinya. Mereka itu seekor buaya penunggu muara, gunung yang dibalut mitos, negara yang bising, atau sejarah yang tak selesai. Kita melihat manusia menata yang rapuh dengan bahasa yang terbatas.
Membaca 17 cerpen ini kita seperti berjalan dalam pasar malam yang ramai, tiap sudut mengajukan suara, aroma, dan dentuman sendiri. Dari satu stan kita mencium asap sate; dari stan lain suara gamelan; di ujung, seorang anak menjual mainan plastik yang berderit, sementara tak jauh, seseorang membacakan ayat. Begitu juga dunia cerpen ini, gaya realisme yang pekat bersisian dengan realisme magis, absurditas bercampur dengan rilisisme, politik getir bersebalahan dengan humor pedesaan. Dengan demikian, 17 cerpen ini sebenarnya merepresentasikan spektrum pluralisme genre sastra Indonesia kontemporer, dari realisme sosial, realisme magis, lirisisme intim, satire-absurd, alegori politik, hingga tragedi eksistensial.
| P01535S | 899.221 301 RED r | My Library (Kesusastraan) | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain